CERPEN REMAJA

Kamis, 04 September 2008

BUKAN RANI

Suara tabuhan drum dengan tempo cepat selama semenit menjadi menutup penampilan band Meteor asal SMU Bintang 4 sekaligus mengakiri pegelaran sepekan Teen Music Party di stadion Kemerdekaan. Tepuk tangan riuh penonton terdengar begitu musik berhenti. Band ini memang ditunggu-tunggu kehadirannya di atas panggung. Keempat personel band melambaikan tangan pada penonton sebelum meninggalkan panggung.
Rani, sang vokalis berwajah imut, menyempatkan diri menerima bunga dari seorang pria berkaus oblong sebelum turun panggung. Belum juga mengucap terima kasih, pria itu sudah berlalu.
Andara, Erma, Mona, dan Rani masuk ke dalam ruang ganti di belakang panggung. Keempatnya berkeringat dari wajah sampai kaki. Udara memang panas di tengah hari sekarang.
Andara, sang drummer, mengeluarkan botol air mineral 600 ml dari dalam tas Nike warna biru lalu menenggaknya. Diambilnya handuk kecil untuk mengelap peluh.
“Gue penasaran sama cowok itu. Siapa sih, Ran?” Tanya Andara seraya memasukkan stik drum
Rani meletakkan bunga tadi di atas meja.
“Mon, tolong dorongin tas gue ke sini. Ga usah diangkat. Berat.” Pinta Rani pada Mona seraya menunjuk tas punggung Bodypack hitam di dekat Mona duduk. “Gue ga kenal sama cowok itu, tapi dia pasti deh nonton kita terus.” Jawab Rani pada Andara.
Sang gitaris bertubuh jangkung itu membongkar tumpukan tas di lantai kemudian menarik tas Rani. Dengan kedua tangan tas itu didorong ke arah sang vokalis dengan susah payah.
“Bawa batu apa beras, Ran?” Tanya Mona dengan heran.
“Beras.” Jawab Rani singkat. Dia membuka resleting kemudian mengeluarkan dua botol minuman isotonik. Botol pertama diberikan pada Erma sang basis yang juga sepupunya lalu mengambil botol kedua untuk diri sendiri.
“Kayaknya kita butuh manajer deh, gals.” Ujar Rani pada tiga anggota band lain.
“Dulu kita sempat punya manajer, tapi gara-gara Erma…” Sungut Mona.
Erma cepat-cepat memotong, “Yee, kok jadi nyalahin gue sih? Dia mengundurkan diri karena ga beres ngurus kita berempat.” Erma membela diri.
“Tapi lu yang paling susah diatur!” tuding Mona dengan tajam.
“Eh sembarangan!” Ema memelototkan mata pada Mona.
Andara mendehem.
“Gue setuju ama lu, Ran.” Sela Andara mengalihkan keributan kecil yang biasa terjadi antara Erma dan Mona. “Sekarang kita benar-benar butuh manajer. Apalagi kalau semuanya punya jadwal les sana-sini.”
Rani mengeluarkan T-shirt dari dalam tas.
“Bentar ya, gals. Gue ganti baju dulu. Dah lengket.” Ujar Rani kemudian masuk ke kamar mandi.
Andara menghela nafas kemudian mengambil HP dan mengecek SMS.
“Aya, emang kamu pernah liat cowok itu sampai ngajak Rani ngobrol?” Tanya Mona pada Andara sambil mengawasi pintu kamar mandi.
Andara menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP. Beberapa SMS yang masuk ketika mereka tampil di panggung dibaca satu-persatu.
“Jangan-jangan pacarnya Rani. Dia kan suka pacaran diam-diam di belakang kita.” Tuding Mona.
Andara menghela nafas panjang.
“Halah. Sutra lah, jeng. Gosip aja hari gini. Gue lagi baca tawaran manggung di kafe dekat rumah gue. Jumat depan, mulai jam 8 malam. Diambil ga, nih?” Tanya Andara pada keduanya.
“Ambil aja kali, ya. Rani juga kosong kalau hari itu.” jawab Mona cepat.
Erma spontan mengacungkan tangan.
“Idih, jahat! Gue kudu nonton lanjutan Prison Break!”
“Busyet dah! Cuma gara-gara gituan doang trus band kita dikorbankan?” Mona menyahut dengan nada tinggi.
“Gituan maksud lo? Itu serial paling keren tau!”
“Eh Ma, yang lu tonton itu aktornya bukan jalan ceritanya.” Ujar Mona tidak mau kalah.
Andara menengahi.
“Kemungkinan besar kita ambil ya, gals. Tuh Rani udah keluar.” Ucap Andara sambil menunjuk pintu kamar mandi yang terbuka.

Pagi-pagi buta Rani disibukkan urusan mencari syal yang raib entah kemana. Sejak semalam dia teringat akan hadiah ulang tahun dari ketiga sahabatnya itu. Di tempat cucian tidak ada, di lemari pakaian juga.
Dia membuka semua pintu lemari lalu berdiri tegak sambil mengingat-ngingat. Terakhir syal garis-garis itu dikenakan ketika tampil di Teen Music Party. Sewaktu di panggung dia merasa syal itu melilit di leher. Tapi setelah lagu terakhir dan hendak turun panggung sepertinya syal itu sudah tidak ada.
“Apa jatuh pas gue nerima bunga dari cowok misterius itu ya? Bisa jadi. Duh, dia liat ga ya? Disimpen ama dia ga ya? Wah kudu konsultasi ama ahlinya nih.” Batinnya diwarnai kepanikan.
Rani akhirnya urung membongkar isi lemari. Diambilnya HP lalu duduk di tepi tempat tidur. Dihubunginya salah satu nomer personel band dan menyalakan speaker saat mendengar nada tunggu pertama. Dia melirik jam dinding. Baru pukul empat pagi.
“Oi..” jawab suara serak di seberang.
“Andara Estianty, bangun dong! Gue mau ngomong. Penting ting ting!” perintah Rani cepat-cepat sebelum ditutup Andara antara sadar dan tidak.
“Estanty, Madam.” Jawab Andara dengan gemas bercampur geram. Ternyata pancingan Rani kena sasaran.
“Aya, syal gue ilang huhuhu. Cedih.” Ucap Rani seperti anak kecil kehilangan hewan peliharaan.
“Ilang? Lu buang?” Tanya Andara malas-malasan.
“Heh! Ilang ama dibuang tu dua hal yang berbeda kali.” Jawab Rani dengan galak. “Kayaknya jatuh deh pas kita manggung di Kemerdekaan.”
Hening sesaat di seberang.
“Hm. Cari aja ke sana setelah pulang sekolah. Gue temenin deh. Tapi setelah itu traktir maen di game online dua jam, ya.” pinta Andara.
Rani terdengar mengomel tapi itu kesepakatan mereka. Pembicaraan pun diakhiri.

Setelah jam pelajaran berakhir, Andara membonceng Rani menuju stadion Kemerdekaan. Mereka bertanya pada karyawan stadion sampai tukang sapu. Tidak ada yang tahu keberadaan syal itu. Rani lemas dan membisu.
Mereka menuju game center langganan Andara. Sebuah tempat yang tidak begitu besar tapi selalu ramai. Di sanalah cewek tomboy itu menghabiskan waktu jika tidak ada les privat dan latihan rutin band. Dia menarik tangan Rani agar ikut masuk ke dalam.
Mereka menempati satu komputer dan Andara mengambilkan kursi plastik agar Rani duduk di sebelahnya. Begitu bergabung ke permainan, Andara langsung keasyikan dan tidak lihat kanan-kiri, kecuali memastikan Rani masih duduk di sana. Itu pun hanya sekali.
Sejam berlalu. Rani yang dilanda kebosanan pun beranjak menuju tempat penjualan makanan ringan dan minuman di seberang meja operator. Dia melihat-lihat etalase lalu tertarik membeli sebungkus kacang kulit dan dua teh botol. Saat akan membayar dia tertegun melihat si kasir.
“Lho, kamu?” Tanya mereka bersamaan.
“Ngapain di sini?” Tanya Rani dengan pandangan penuh curiga.
“Gue kerja di sini. Kalau lu ngapain?” Tanya cowok yang dianggap Rani dan teman-temannya misterius.
“Gue pingin aja ke sini. Emang ga boleh? Bukannya lu seneng gue di sini? Lu kan nge-fans ama gue.” Tuduh Rani dengan PD-nya.
Cowok itu melongo.
“Gue emang nge-fans, tapi ama band lu. Apalagi ama…drummer lu.” Si cowok itu berbisik-bisik.
Gantian Rani yang melongo
“Gile! Padahal cakepan gue lho. Tapi, kebetulan ketemu lu di sini. Gue nyari-nyari syal gue. Yang biasa gue pake. Tau kan? Eh siapa nama lu? Kita belum kenalan.” Rani langsung mengulurkan tangan.
“Ivan. Rani, kan? Syal lu ada ama gue. Mau gue balikin Jumat besok, tapi berhubung ketemu sekarang, ya sekarang aja. Bentar ya.”
Ivan masuk ke sebuah ruangan. Tidak lama dia kembali membawa kantong kresek kecil lalu menyerahkannya pada Rani. Dia melihat raut wajah Rani berubah cerah saat melihat barang yang dicari-cari sejak kemarin. Ivan memegang tangannya.
“Jangan bilang-bilang ke Andara kalau sebenernya gue ngefans dia ya, Ran. Gue udah lama perhatiin dia tiap main di sini. Mau gue ajak kenalan tapi dia kayaknya cuek sama sekitar. Gue udah seneng banget jadi fans rahasia dia. Oya, ini kacang ama teh botol gue kasih gratis deh.” Ujar Ivan masih berbisik-bisik.
“Tau gitu gue beli tiga bungkus buat nonton film.” Canda Rani. “Makasih lho, Van. Sekali-kali jangan ngasih bunga dong. Apaan kek. Coklat juga boleh. Becanda kok. Ya udah, gue nemenin Andara lagi. Jumat gue tunggu, eh kami tunggu.” Ralat Rani seraya melambaikan tangan setelah memasukkan bungkusan berisi syal ke dalam tas sekolah.
Rani sengaja membuat sedikit suara dengan kursi ketika duduk kembali di tempatnya. Sengaja ingin membuat Andara terkejut.
“Lho, dari mana?” Tanya Andara.
“Nih beli makanan. Mahal banget harganya dari toko gue.” Keluh Rani sambil membuka bungkusan kacang.
“Makanya gue kalau ke sini pasti makan dulu. Biar bisa main dengan tenang.” Ungkap Andara kembali melihat ke layar monitor.
Rani mengangguk-angguk. Diam-diam dia tersenyum saat teringat Ivan. Cowok berkacamata itu pasti menunggu-nunggu suatu saat Andara membeli cemilan dan berbicara padanya seperti saat tadi mereka berkenalan. Rani mengunyah kacang gratisan dari Ivan. Sesekali dia masih senyum-senyum sendiri jika mengingat Ivan dan kemisteriusannya. Ah cowok aneh!

Yogya, 21 Desember 2007
Buat aku dan W